Renungan Minggu: 4 – 10 Februari 2024 – Bersama Tuhan Melawan Ketidakadilan – Amos 5:7-13


 ALASAN PEMILIHAN TEMA

Keadilan dan kebenaran harus ditegakkan dan dirasakan dalam suatu komunitas masyarkat yang menjadi dambaan setiap orang bahkan manusia pada umumnya. Sebaliknya hidup dalam ketidakadilan dan ketidakbenaran disertai dengan penindasan dan perampasan hak menjadi kondisi yang tidak diinginkan dalam hidup bersama.

Walaupun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa kenyataan di mana ketidakadilan dan ketidakbenaran itu masih sering dipraktekan ditengah gereja dan masyarakat. Kita menemui bahwa dalam kenyataan ada orang rela berbuat tidak adil demi tercapainya tujuan dan keinginannya. Orang berlaku tidak benar hanya untuk memuluskan kepentingan-kepentingan kelompoknya. Kenyataan lain juga menyaksikan kepada kita bahwa orang rela mengorbankan orang lain demi kesenangan dan kegembiraannya. Atau juga demi memuluskan tujuan dan kepentingannya, orang lain ditindas dan dikorbankan. Ada yang membutuhkan perhatian untuk menegakan keadilan dan kebenaran tetapi ada yang mengabaikannya hanya karena beda kepentingan dan tujuan.

Gereja hadir ditengah realitas yang sangat mendambakan keadilan dan kebenaran terjadi dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu gereja dipanggil untuk menghadirkan keadilan dan kebenaran yang dengan sendirinya melawan ketidakadilan dan ketidakbenaran. Hal ini tidak mudah dan oleh karena itu hanya bersama Tuhan gereja dapat berjalan untuk menghadirkan keadilan dan kebenaran. Oleh karena itu disepanjang minggu ini kita dibawa dalam perenungan Firman Tuhan dengan tema: “Bersama Tuhan Melawan Ketidakadilan.”

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Untuk memahami kita Amos harus dimulai dari Amos 1:1 yang memberikan penjelasan bahwa Amos adalah seorang nabi dari Tekoa. Tekoa adalah sebuah desa kecil diperbukitan Yehuda kira-kira 12 mil (Ada yang mengatakan 15 Km) sebelah Selatan Betlehem. Amos juga adalah seorang peternak domba (Noqed ד ֵק ֹנ ) dan juga sebagai petani yang disebutnya sebagai pemungut buah arah hutan (Boles סַל ָּב ( (7:14). Itu berarti sebenarnya Amos adalah seorang yang mapan namun punya panggilan kenabian yang sangat kuat yang menurutnya benar-benar dipanggil oleh Yahweh (7:15) Dapat dikatakan bahwa Amos meninggalkan kenyamanannya dan mengikuti panggilan Tuhan ke Utara dan menyampaikan berita disana. Amos bernubuat di Israel Utara kira-kira pada tahun 750 SM dimana periode itu merupakan periode pemerintahan Yerobeam II (793-753 SM). Kuatnya panggilan Tuhan itu membuat Amos harus rela mendapatkan penolakan namun tetap menyerukan agar umat harus mencari Tuhan supaya memperoleh kehidupan.

Apa yang sementara terjadi dalam kehidupan Israel Utara adalah seperti dalam teks Amos 5:7, bahwa kehidupan bangsa Israel tidak lagi mencerminkan kehidupan sebagai umat Tuhan. Pemimpin-pemimpin Israel betah dengan berbuat tidak adil dan nyaman dengan penindasan serta hidup mewah. Keadilan (Ibr. Mispat טָּ֑ ָּפ ְׁש ִמ) telah dijungkirbalikkan dan telah menjadi ipuh. Ipuh sebagai kiasan yang diambil dari tanaman beracun yang pahit (Lalaanah הָ֖ ָּנֲעַל ְׁל). Itu menandakan bahwa ketidakadilan yang dilakukan telah menjadi seperti tanaman yang beracun dan mematikan masyarakat atau rakyat. Ipuh juga menjadi simbol kepahitan dan malapetaka. Demikian juga kebenaran (Sedaqah ה ָ֖ ָּק ָּד ְׁצ) telah di campakkan. Itulah sebabnya dengan keras Amos mengecam praktek ketidakadilan itu.

Dengan kata lain, kemiskinan karena ketidakadilan menjadi pemandangan yang lazim dan kemewahan dipihak lain menjadi hal yang lumrah bagi penguasa yang tinggal di istana (Lihat juga 2:7-8; 4:7). Bagi Amos, ini adalah tindakan dan perlakuan yang dapat mendatangkan hukuman dari Tuhan. Amos mengingatkan bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Allah (ayat 8), sehingga ini mengingatkan Israel agar menyadari apa yang telah mereka lakukan. Mereka sepertinya membenci kebenaran dan merasa nyaman dengan melakukan kejahatan. Tuhan dapat mendatangkan kebinasaan bagi mereka yang merasa kuat yaitu penguasa dan orang-orang kaya yang menindas orang miskin. Bila Tuhan yang bertindak maka tidak ada benteng yang dapat dijadikan tempat persembunyian bagi yang melakukan ketidakadilan. (Dia yang menimpakan kebinasaan atas yang kuat, sehingga kebinasaan datang atas tempat yang berkubu. Amos 5:9). Amos mengecam keadaan yang sementara terjadi dalam kehidupan umat Tuhan itu. Mereka rupanya tidak mau lagi mendengar teguran yang biasanya ada di pintu gerbang serta sangat keji dan menolak orang yang menegur dengan tulus ikhlas. Biasanya di pintu gerbang kota adalah tempat pelaksanaan keadilan dan tempat dimana orang mendapatkan putusan keadilan. Ternyata orang tidak mau mendengar dan memberlakukan lagi keadilan itu.

Disamping itu Amos melihat bahwa orang lemah dan orang miskin menjadi objek pemerasan dan penindasan. Mereka yang harus dibela ternyata dibiarkan oleh karena telah menerima suap sehingga orang benar terjepit dan orang miskin terabaikan. Amos mengingatkan bahwa akibat tindakan-tindakan tersebut, umat Tuhan akan menerima hukuman yaitu rumah-rumah yang mereka dirikan tidak akan mereka diami dan kebun anggur yang indah tidak akan mereka nikmati anggurnya. Artinya bahwa mereka tidak akan menikmati hasil yang mereka upayakan dengan cara-cara yang tidak berkenan di hadapan Tuhan yaitu menginjak dan memeras orang lemah. Sangat memprihatinkan keadaan umat Tuhan saat itu, sehingga menurut Amos orang yang berakal budi sepertinya akan merasa sia-sia untuk berbicara ditengah situasi tersebut karena waktu itu adalah waktu yang jahat. Bagi Amos kejahatan Israel sungguh parah dan penghukuman sudah ada di depan mata. Ini yang kemudian Amos menyebutnya sebagai Hari Tuhan sebagai waktu penghukuman Tuhan bagi Israel (lihat Amos 5:18-20). Menarik bahwa, orang Israel mengira Hari Tuhan adalah hari dimana Tuhan akan membela Israel dan dibenarkan dihadapan musuh-musuhnya. Padahal menurut Amos, Hari Tuhan adalah hari penghukuman bagi Israel.

Makna dan Implikasi Firman

  • Amos adalah nabi yang dipanggil Tuhan untuk menyampaikan berita penghukuman dan keselamatan kepada Israel dengan panggilan yang kuat. Ia rela meninggalkan kenyamanan serta bergerak menuju ke Israel Utara sekalipun harus berhadapan dengan penolakan dan juga berhadapan dengan para petinggi dan pemimpin Israel dan kemudian menyerukan penghukuman dan keselamatan dari Tuhan.
  • Orang Percaya juga dipanggil Tuhan bukan hanya menyerukan keadilan dan kebenaran tetapi lebih daripada itu adalah orang percaya harus menghadirkan keadilan dan kebenaran itu. Gereja harus menjadi pelopor dalam memberikan perhatian kepada tegaknya keadilan dan kebenaran serta keberpihakan terhadap kaum lemah yang ditindas dan yang diinjak hak-haknya.
  • Untuk melawan ketidakadilan sesungguhnya cara yang terbaik adalah menghadirkan keadilan itu sendiri. Dengan kata lain, bilamana realitas ketidakadilan dan ketidakbenaran bagi sebagian orang adalah hal yang biasa, tetapi sebagai orang percaya menghadirkan keadilan dan melahirkan kehidupan bagi sesama adalah panggilan Tuhan yang harus diwujudkan.
  • Keragaman pilihan dalam pesta demokrasi saat ini bukanlah alasan untuk saling menjatuhkan satu dengan yang lain, tetapi sebaliknya pesta demokrasi menjadi momen dalam mana kita berkontribusi untuk semakin tercipta dan terpeliharanya keadilan dan kebenaran di negara Indonesia yang kita cintai ini. Amin. (mtpjgmim)

Berita Terkait

Top