Renungan Minggu: 29 Oktober – 4 November 2023 – Jadilah Penyambung Lidah Allah – Amos 3:1-8


ALASAN PEMILIHAN TEMA
Keadilan sosial merupakan butir dari sila kelima Pancasila yang sekaligus menjadi landasan hidup dan cita-cita bangsa Indonesia. Namun faktanya, keadilan menjadi barang yang langka karena justru ketidakadilan sosial-lah yang meraja di negeri ini. Dengan mata telanjang kita dapat menyaksikan bagaimana kesenjangan sosial yang begitu jauh antara orang kaya yang menikmati kemewahan hidupnya tinggal di antara orang miskin yang berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Ketidakadilan ekonomi yang membuat orang miskin dan tak berdaya semakin terjepit serta hukum yang memihak para penguasa dan tidak lagi memperjuangkan keadilan dan kebenaran sebagaimana mestinya menjadi fenomena ketidakadilan sosial di Indonesia saat ini.

Keadilan menjadi gaung yang terkadang tidak bergema baik di negara Indonesia maupun di dalam gereja sendiri. Hampir seluruh masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragama, namun ternyata agama tidak menjamin moral seseorang. Kesenjangan sosial dan ketidakadilan di bidang ekonomi dan hukum menjadi realita yang bisa disaksikan dengan mata telanjang. Gereja dan negara Indonesia memiliki dasar keadilan sosial, yang seharusnya menjadi pedoman dan tolok ukur bagi perwujudan keadilan sosial di Indonesia.

Nabi Amos dengan tegas menyuarakan suara kenabiannnya melawan ketidakadilan yang terjadi pada waktu itu. Bagaimana gereja menyikapi ketidakadilan yang terjadi sekarang ini? Berangkat dari kebenaran firman menurut Amos dan keprihatinan terhadap situasi ketidakadilan di bumi pertiwi dewasa ini, maka perenungan kita di minggu berjalan ini diberi tema: “Jadilah penyambung lidah Allah”. Pemilihan tema ini bertujuan agar jemaat mampu melakukan kebenaran dan keadilan sesuai Alkitab dan firman Tuhan.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kitab Amos merupakan kitab yang berisi perkataan yang dinyatakan kepada Amos tentang Israel pada zaman Uzia, raja Yehuda dan dalam zaman Yerobeam, anak Yoas raja Israel dua tahun sebelum gempa bumi. Amos tinggal di wilayah perbukitan Yudea di kota Tekoa dan sebagai seorang peternak domba tapi juga sebagai pemetik buah ara (Amos 1:1).

Amos bernubuat kepada kerajaan Utara pada pertengahan abad ke-8 SM. Bangsa itu secara lahiriah berada di puncak perluasan wilayah, stabilitas politik dan kemakmuran nasional. Secara batiniah bangsa itu sudah bobrok. Kemunafikan dan penyembahan berhala sudah merata, masyarakat hidup mewah secara berlebihan, kebejatan merajalela, sistem peradilan rusak dan penindasan orang miskin merupakan kebiasaan umum. Dalam rangka mengikuti panggilan Allah. Amos pergi ke Betel. tempat tinggal raja Yerobeam II dan pusat agama yang dibanjiri para penyembah. Di sanalah Amos dengan berani memberitakan berita keadilan, kebenaran dan hukuman ilahi karena dosa kepada umat yang tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada mereka.

Menurut pandangan Amos, memperkosa hak sesama manusia berarti memperkosa perjanjian dengan Tuhan. Meskipun nabi Amos mengecam ibadat curang yang tidak berjiwa (Amos 4:4-5; 5:21-26), namun sesungguhnya ia terutama mencela para kalangan atas yang memperkosa keadilan dalam masyarakat, serta melakukan penindasan dan pemerasan terhadap rakyat jelata (Amos 2:6-8; 3:9; dst). Amos mengecam sistem peradilan yang korup yang tidak menjunjung tinggi nilai kebenaran, tetapi justru menjadi tempat di mana kebenaran dan keadilan diperjualbelikan.

Keberdosaan Israel secara konkrit adalah pelanggaran terhadap keadilan dan kebenaran. Amos dipilih dan diutus Tuhan untuk menyampaikan firman-Nya kepada umat-Nya dan para pemimpin kerajaan Utara (Israel) untuk memberitahu umat Israel bahwa Tuhan akan menghukum mereka sebab orang kaya dan penguasa negeri itu merampok kaum miskin dan memperlakukan mereka dengan tidak adil serta menyembah ilah lain.

Ayat 1— 2, pemberitaan tentang sikap Allah terhadap Israel yang berdosa. Pada ayat 1 dikatakan bahwa TUHAN menyebut Israel sebagai kaum yang telah Ia tuntun keluar dari tanah Mesir. Pernyataan ini menjadi pernyataan yang tegas dan jelas. Dengan pernyataan semacam ini dapat dikatakan bahwa Allah hendak mengingatkan bangsa Israel bahwa Ia yang berfirman ini adalah Allah yang sama dengan Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan bangsa Mesir. Allah inilah yang lewat perantaraan Musa menyebut diri-Nya dengan sebutan ‘Aku adalah Aku’, ‘Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub’. Dengan demikian dapat diyakini bahwa Allah yang sedang berfirman kepada Israel lewat perantaraan Amos ini adalah Allah yang telah berjanji dan terbukti menjadi Allah yang senantiasa hadir menyertai perjalanan bangsa Israel, Allah yang hidup. Allah yang terlibat aktif dalam perjalanan hidup bangsa Israel sejak zaman nenek moyang mereka. Dalam ayat 1 ini Allah berfirman bagi Israel yang telah mengalami pembebasan dari Mesir itu.

Pada ayat 2 Allah menyebut Israel sebagai satu-satunya bangsa yang Ia kenal di muka bumi ini, “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi…”. Kata yang penting untuk diperhatikan di sini adalah `kenal’. Kata ini dekat kaitannya dengan keterpilihan Israel sebagai bangsa yang ditentukan Allah sebagai umat kesayangan-Nya dari antara segala bangsa di muka bumi. Dengan demikian maka dalam firman ini Allah juga menegaskan bahwa Israel adalah satu-satunya bangsa yang telah mendapatkan perkenanan hati Allah sebagai yang terpilih dan yang dikasihi-Nya. Ada relasi yang dekat dalam perasaan, keterlibatan, dan ikatan kasih antara Allah dan bangsa Israel. Walaupun demikian, sebutan ini bukanlah sebutan yang melulu menunjuk pada keistimewaan yang dimiliki oleh Israel di mata Allah. Di balik keintiman hubungan antara Allah dan Israel itu, ada panggilan dan tanggung jawab yang diberikan Allah kepada Israel. Keterpilihan itu merupakan panggilan yang penuh tanggung jawab yang dimiliki oleh Israel untuk hidup sesuai dengan identitas keterpilihannya itu, hidup dalam kasih karena telah lebih dahulu dikasihi oleh Allah, hidup sesuai dengan perintah-perintah Allah.

Ayat 3 — 6, penggambaran ‘Sebab — akibat’ mengenai perbuatan Tuhan. Penggambaran mengenai perbuatan Tuhan yang dimaksud dalam bagian ini adalah soal kepastian bahwa jika bangsa Israel bertindak melawan kehendak Allah, maka akan ada hukuman dari-Nya; atau dengan kata lain jika ada hukuman, maka itu berarti dia yang dihukum pasti telah melakukan perbuatan dosa.

Pada ayat-ayat ini juga dinyatakan bahwa kuasa Allah bekerja dalam peristiwa kehidupan manusia, dalam hal ini malapetaka yang terjadi di suatu kota. Artinya, dalam setiap peristiwa yang dialami oleh bangsa Israel, ada kehendak Allah yang dinyatakan. Hal itulah yang perlu disadari oleh mereka. Dengan kata lain, ayat-ayat ini menjadi seruan bagi bangsa Israel untuk introspeksi diri dan merefleksikan peristiwa yang mereka alami berkaitan dengan panggilan dan keterpilihan mereka serta relasi mereka dengan Allah.

Ayat 7 — 8, Panggilan seorang Nabi Amos seorang nabi yang ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Allah, sekalipun Amos sendiri juga tak pernah merasa menjadi manusia yang paling unggul di antara kaumnya. Ketika ia berkata-kata pun, tentu seorang nabi tak berkata-kata dengan keangkuhan dan keinginan untuk dipandang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah.

Makna dan Implikasi Firman
Dalam kehidupan masyarakat terjadi ketidakadilan dan perbedaan yang mencolok antara kaya dan miskin, antara yang berkuasa dan dibiarkan berbuat apa saja dengan mereka yang setiap hari sibuk mencari sesuap nasi untuk menyambung hidupnya dan kerap kali menjadi korban tindakan sewenang-wenang. Dalam menyikapi setiap persoalan ini gereja terpanggil untuk menyampaikan suara kenabian.

Orang yang beriman pada Allah yang bersifat adil dan benar seharusnya menjadi pelaku-pelaku keadilan dan kebenaran. Amos menyerukan pertobatan secara nasional, siapa yang mau selamat maka ia harus menegakkan keadilan dan kebenaran serta menjauhi kejahatan. Mewujudkan keadilan sosial bukanlah sebuah peringatan tetapi keharusan untuk beroleh hidup.

Keterpilihan bangsa Israel merupakan suatu rahmat dari Allah bukan karena jasa-jasa mereka. Jika Allah begitu menaruh perhatian dan kasih kepada mereka sehingga Ia mengerjakan begitu banyak penyelenggaraan yang menyelamatkan, pertama-tama dan terutama itu adalah kehendak Allah. Demikian juga jika Ia menaruh kepercayaan kepada orang-orang tertentu untuk menerima rahmat penglihatan atau pendengaran yang membuat mereka mengerti apa yang dikehendaki-Nya. Ia menginginkan bangsa Israel untuk hidup kudus sesuai dengan perintah-perintah-Nya. Orang-orang pilihan-Nya, Ia utus untuk menjadi penyambung lidah Allah bagi manusia dan dunia ini.

Menjadi pengikut Kristus di masa kini berarti dipanggil untuk hidup dalam perjuangan menjalankan perintah-perintahNya sembari diutus untuk mewartakan kabar sukacita ke seluruh dunia. Amin.

(mtpjgmim)

Berita Terkait

Top