Renungan Minggu: 11-17 Februari 2024 – Naikkan Doa Untuk Ketentraman Bangsa – 1 Timotius 2:1-7


ALASAN PEMILIHAN TEMA

Ada banyak orang percaya yang benar-benar menempatkan doa sebagai unsur yang penting dan istimewa, baik dalam kehidupan pribadi maupun rumah tangga. Karena dengan sangat yakin, doa dipandang sebagai nafas kehidupan. Secara dogmatis, doa adalah sarana komunikasi antara orang percaya dengan Allah Bapa dalam Yesus Kristus. Walaupun dalam kenyataan hidup sehari-hari, kita sering melihat ada orang yang mengabaikan berdoa, atau ada yang menjalani hidup dalam doa tapi hanya sebuah kebiasaan rutin; misalnya kalau mau tidur atau makan/minum didahului dengan doa. Dengan kata lain, doa hanya sebatas kebiasaan kristiani, tetapi tidak menjadi sesuatu yang penting dalam hidup.

Sehubungan dengan hal doa, maka perenungan sepanjang minggu ini akan dituntun oleh tema: “Naikkan Doa Untuk Ketentraman Bangsa.” Tema ini menjadi sebuah pesan Firman Tuhan, karena di minggu ini, kita sedang berada pada masa tenang dan Pemilihan Umum (PEMILU) yang akan dilaksanakan pada hari Rabu, 14 Februari 2024. Sebagai Warga Negara Indonesia, khususnya yang wajib pilih, akan menuju ke tempat pemungutan suara (TPS), untuk memberikan hak suara memilih calon Anggota DPRD Kabupaten/Kota/Provinsi, DPR-RI dan DPD RI serta memilih calon Presiden dan Wakil Presiden Periode 2024 – 2029. Oleh sebab itu, melalui tema ini kita diingatkan tentang tanggungjawab dan panggilan iman untuk berdoa bagi ketentraman, keamanan dan kedamaian bangsa Indonesia. Terutama saat persiapan, pelaksanaan dan pasca PEMILU.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Surat 1 dan 2 Timotius serta Titus merupakan surat-surat penggembalaan dan sifatnya sangat pribadi (pasal 1:1, 2 Timotius 1:1, Titus 1:1). Timotius adalah seorang muda yang lahir di Listra, ibunya seorang keturunan Yahudi yang bernama Eunike dan neneknya Lois, yang dikatakan Paulus sebagai perempuan-perempuan yang beriman. Sedangkan ayahnya keturunan Yunani seorang penyembah berhala. Timotius bergabung dengan Paulus pada perjalanan kedua. Untuk menghindari pandangan buruk orang Yahudi terhadap Timotius karena ayahnya seorang Yunani, maka Paulus menyuruh Timotius untuk menyunatkan diri dan fokus memberi perhatian pada pekabaran Injil serta merawat jemaat-jemaat perdana. (Kisah para rasul 16:1-4) Karena itu, Paulus menugaskan Timotius di Efesus (1 Timotius 1:3) dan Titus di Pulau Kreta (Titus 1:5).

Dalam surat 1 Timotius, Paulus menasihatkan dan memperingatkan semua orang percaya agar selalu waspada terhadap ajaran-ajaran sesat. Sekaligus memberi petunjuk tentang pemilihan pemimpin jemaat dan ajaran tentang jabatan pelayanan serta tanggungjawab seorang pemimpin dalam jemaat. Nampaknya dalam surat 1 Timotius ini Paulus betul-betul memberi peringatan kepada Timotius agar dengan sungguh-sungguh memperkuat imannya, teguh terhadap pokok-pokok iman dan ajaran yang diajarkan Paulus agar ia menjadi teladan di tengah kehidupan jemaat yang tengah menghadapi gelombang penyesatan (pasal 4:1-16).

Paulus memberi nasihat kepada Timotius secara khusus dalam pasal 2:1-7 mengenai doa jemaat, dimulai dengan ajakan untuk menaikkan permohonan, yang berarti menyampaikan permintaan kepada Tuhan Allah, yaitu doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang (ayat 1). Doa syafaat artinya doa permohonan kepada Tuhan Allah untuk kehidupan orang lain. Frase ‘untuk semua orang’ dalam ayat 1 hendak mengingatkan Timotius bahwa dia dan jemaat Kristen berada dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Sehingga meskipun berbeda secara etnis dan kepercayaan (iman), tetapi siapapun mereka harus tetap didoakan. Selain itu. Paulus menasihatkan supaya menaikan doa juga untuk raja-raja dan semua pembesar, agar orang-orang percaya dapat hidup tenang dan tentram dalam kesalehan serta kehormatan. Karena itulah sikap hidup yang benar dan berkenan kepada Allah (ayat 2-4).

Nasihat pada ayat 2-4 berhubungan dengan ajaran Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Nasihat dan perintah ini adalah satu hal yang sangat dilematik, sebab pada masa itu, penganiayaan dan penindasan orang percaya sedang berlangsung yang dilakukan oleh dan atas perintah para raja dan pembesar Romawi. Jika melihat dari waktu penulisan surat 1 Timotius pada tahun 65 M dan 2 Timotius pada tahun 67, berarti situasi jemaat waktu itu sedang berada di masa pemerintahan Kaisar Nero (tahun 37-68 M) yang sangat jelas melakukan penindasan bahkan pembantaian orang-orang Kristen. Orang Kristen menjadi kambing hitam penyebab kekacauan dan pembakaran kota Roma pada tahun 67 oleh kaisar Nero. Diperkirakan pada tahun itulah Rasul Petrus mati dengan cara disalib dan Rasul Paulus mati dipenggal kepalanya, semua terjadi di kota Roma.

Melanjutkan nasihatnya kepada Timotius, maka dalam ayat 5-7, Paulus memberikan tekanan pada salah satu pokok pengakuan iman Israel: “Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa” (Ulangan 6:4). Pengakuan iman ini juga menjadi dasar pengakuan iman Kristen, terutama mengenai keesaan Tuhan Allah yang menunjuk pada keesaan dengan Yesus Kristus yang sudah berkorban menjadi tebusan dosa semua manusia. Sebagai bukti solidaritas Tuhan Allah dengan manusia berdosa yang oleh-Nya Paulus ditetapkan sebagai rasul, pemberita dan pengajar bagi orang-orang bukan Yahudi.

Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa perikop ini merupakan nasihat sekaligus ajakan kepada Timotius dan jemaatnya untuk tetap berdoa dalam keyakinan, termasuk untuk raja-raja dan pembesar-pembesar supaya mereka dapat hidup tentram. Akan tetapi kalau pun harus menghadapi penindasan dan penganiayaan, mereka akan tetap kuat dan iman mereka dalam Kristus akan selalu terpelihara.

Makna dan Implikasi Firman

  1. Minggu ini, kita sebagai orang percaya yang juga menjadi bagian yang integral dari bangsa Indonesia sedang menjalani peristiwa monumental yaitu Pemilihan Umum (PEMILU) untuk memilih Calon Anggota Legislatif (DPR-RI, DPD-RI, DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota), Calon Presiden dan Wakil Presiden pada hari Rabu, 14 Februari 2024. Ini berarti bahwa pada hari-hari belakangan ini, kita semua sebagai bangsa sedang berada dalam masa tenang sebagai waktu perenungan untuk memikir-mikirkan tentang calon-calon terbaik yang akan kita pilih untuk perjalanan bangsa Indonesia 5 tahun ke depan. Sejak dahulu kita mengakui bahwa Pemilu itu adalah Pesta Demokrasi. Itu berarti pelaksanaannya harus betul-betul pesta yang dilaksanakan dengan sukacita dan kegembiraan, bukan perselisihan dan permusuhan. Memang dalam pelaksanaan Pemilu, pasti kita berbeda dalambentuk dan warna politik atau berbeda dalam memilih calon anggota legislatif dan calon Presiden dan Wakil Presiden. Namun satu hal yang harus secara sadar kita pertahankan ialah kita semua adalah satu bangsa Indonesia yang diikat dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
  2. Melalui perenungan minggu ini, kita terpanggil untuk menaikkan doa kepada Tuhan Allah agar semua Warga Negara Indonesia untuk dapat mengambil bagian secara aktif dalam kegiatan Pemilu ini demi kesejahteraan dan ketentraman bangsa. Berdoa juga untuk Pemerintah dan para penyelenggara Pemilu dari pusat sampai ke daerah agar dapat melaksanakan tugas mereka dengan jujur, adil dan netral. (mtpjgmim)

Berita Terkait

Top