Renungan Harian: Senin 29 Januari 2024, 2 Samuel 15:2-3 Berkampanye Tanpa Menjelekkan


2 Samuel 15 : 2-3

Maka setiap pagi berdirilah Absalom di tepi jalan yang menuju pintu gerbang. Setiap orang yang mempunyai perkara dan yang mau masuk menghadap raja untuk diadili perkaranya, orang itu dipanggil Absalom dan ditanyai: “Dari kota manakah engkau?” Apabila ia menjawab: “Hambamu ini datang dari suku Israel anu,” maka berkatalah Absalom kepadanya: “Lihat, perkaramu itu baik dan benar, tetapi dari pihak raja tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan engkau.”

Dalam minggu ini kita sebagai bangsa Indonesia sedang berada dalam tahapan kampanye untuk pemilihan umum. Semua pihak, baik bakal calon maupun masyarakat pemilih ikut dalam proses berpolitik, antara lain dalam proses kampanye. Pada masa ini seseorang yang berkampanye akan menggunakan waktu dan kesempatan menyampaikan visi dan misinya. Tetapi ada yang mengumbar janji berjuang demi kepentingan orang banyak. Dalam proses ini kita menyaksikan bentuk kampanye yang sifatnya baik dan ada juga yang buruk. Kampanye yang baik ialah mengikuti aturan dan memberi janji politik yang bermuara pada kesejahteraan. Tapi ada juga kampanye yang buruk, yaitu tidak mengikuti aturan dan memberi janji-janji palsu, menjelekkan orang lain (kampanye hitam). Artinya diminta atau tidak, seseorang yang masuk dalam kompetisi pemilihan umum, akan selalu menunjukkan bahwa dia akan mampu menyelesaikan masalah dalam masyarakat.

Pembacaan Alkitab hari ini, digambarkan bahwa raja Daud memegang peranan penting dalam mengadili dan menyelesaikan setiap perkara yang dialami oleh orang Israel. Hal ini dimanfaatkan oleh Absalom anak Daud, untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari orang banyak agar dia dapat diakui sebagai raja di Israel. Ia tampil di tepi jalan yang menuju ke pintu gerbang dan membujuk orang-orang yang hendak menjumpai raja serta mempengaruhi mereka bahwa ia dapat menyelesaikan perkara yang mereka alami dengan menjelekkan kemampuan raja Daud ayahnya untuk menyelesaikan perkara.

Setiap orang yang mau menjadi pemimpin, selalu berupaya untuk mendapatkan simpati dari orang banyak. Sebagai orang percaya, kita selalu diingatkan bahwa Tuhan Allah memberikan karunia tertentu kepada seseorang untuk menjadi pemimpin. Jadi untuk mengambil bagian dalam pemilihan umum, kita dituntut untuk berproses sesuai dengan kehendak Tuhan Allah, baik sebagai calon legislatif maupun sebagai pemilih. Firman Tuhan hari ini mengarahkan kita, terutama mereka yang mencalonkan diri menjadi pemimpin, agar tidak menempuh cara seperti Absalom yang menjatuhkan dan menjelekkan orang lain termasuk ayahnya. Tapi hendaknya ditempuh dan diraih dengan cara-cara yang demokratis, simpatik, dewasa dan benar. Cara-cara yang baik akan tercermin dari gaya hidup dari orang-orang percaya. Memenangkan pemilihan dengan cara yang baik akan menghasilkan kebaikan bagi hidup bersama. Amin.

Doa: Ya Tuhan Allah, pakailah kami sebagai alat-Mu mengambil bagian dalam proses pesta demokrasi untuk mewujudkan cara-cara yang etis, baik dan benar. Baik dalam proses kampanye, maupun ketika pencoblosan. Amin. (rhkgmim)

Berita Terkait

Top