Renungan Harian: Sabtu 7 Oktober 2023, Menjadi Sesama Bagi Orang Lain – Lukas 10 : 36-37


Lukas 10 : 36-37

Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Menjadi Sesama Bagi Orang Lain

Kita terkadang gagal memperlakukan orang lain dengan baik karena kesalahan berpikir bahwa orang lain harus bersikap dan melakukan yang baik terlebih dahulu. Prinsip kristiani yang benar dinyatakan oleh Yesus Kristen sebagai kaidah emas, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat. 7:12). Kegagalan sang ahli Taurat dalam memahami perintah terutama yang diberikan kepadanya untuk mengasihi sesama adalah karena ia terus bertanya tentang siapa sesamanya dan bukannya berusaha dan berjuang menjadi sesama bagi orang lain.

Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus. Kisah orang Samaria ini ditutup Yesus Kristus dengan pertanyaan, “Siapakah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (ay. 36). Ahli Taurat tersebut menjawabnya, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kisah orang Samaria dan pertanyaan di ujung cerita yang disampaikan Yesus Kristus membawa ahli Taurat sadar dan melihat kesalahan dari kerangka pikirnya. Apa yang terpenting bukanlah pertanyaan tentang siapa yang merupakan sesama manusia, tetapi terutama dorongan bagi seseorang untuk siap menjadi sesama manusia bagi orang lain, terlebih mereka yang membutuhkan belas kasihan. Belas kasihan yang dinyatakan ternyata tidak ditentukan oleh jabatan keagamaan yang dimiliki oleh seseorang (karena imam dan orang Lewi dalam kisah tersebut gagal menyatakan belas kasihan), dan asal-usul kelahiran seseorang, Yahudi atau non-Yahudi. Orang Samaria yang menyatakan belas kasihannya tidak memenuhi unsur-unsur aturan keagamaan Yahudi untuk disebut orang baik dan saleh, yakni pengetahuan agama dan dari garis keturunan seseorang lahir dan dibesarkan.

Orang Samaria ini hanya memiliki satu hal yang terutama dalam hidupnya yaitu belas kasihan dan sayangnya satu hal ini tidak dimiliki oleh dua orang pemimpin agama Yahudi. Belas kasihanya menggerakkan seluruh hidupnya dan karenanya ia menjadi sesama bagi orang malang yang membutuhkan pertolongan. Orang Samaria ini tidak menanyakan apakah orang malang ini sesamanya atau bukan, tetapi bersikap sebagai sesama yang baik kepada orang malang tersebut. Bukankah dunia akan menjadi lebih baik bila kita sungguh-sungguh merenungkan pertanyaan Yesus tersebut, “Siapakah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”

Sebagai keluarga Kristen, marilah hidup kita menyatakan bahwa kita adalah sesama bagi orang lain. Kesadaran untuk menjadi sesama bagi orang lain akan mendorong kita bersikap aktif dan responsif terhadap kebutuhan orang lain akan belas kasihan. Amin.

Doa: Ya Tuhan Yesus Kristus, tolonglah kami agar menjadi sesama bagi orang lain, mengasihi orang lain tanpa membeda-bedakan karena Engkau telah lebih dahulu mengasihi kami. Amin. (rhkgmim)

Berita Terkait

Top