Renungan Harian: Kamis 25 Januari 2024, Kisah Para Rasul 25:9-10 Kebenaran dan Ketidakbenaran


Kisah Para Rasul 25 : 9-10

Tetapi Festus yang hendak mengambil hati orang Yahudi, menjawab Paulus, katanya: “Apakah engkau bersedia pergi ke Yerusalem, supaya engkau dihakimi di sana di hadapanku tentang perkara ini?” Tetapi kata Paulus: “Aku sekarang berdiri di sini di hadapan pengadilan Kaisar dan di sinilah aku harus dihakimi. Seperti engkau sendiri tahu benar-benar, sedikitpun aku tidak berbuat salah terhadap orang Yahudi.

ADA berbagai cara digunakan oleh orang yang dipercayakan menjadi pemimpin. Salah satunya dengan membangun citra diri untuk mempertahankan popularitas dengan memainkan perasaan dan persepsi publik terhadap kepribadiannya. Cara demikian
dianggap sebagai pilihan agar supaya tetap dalam posisi aman dan tetap mendapat simpati dari banyak orang. Hal ini dilakukan oleh Festus yang membiarkan Paulus dalam penjara (pasal 24:27), dengan maksud hendak menggunakan Paulus sebagai alat untuk menarik simpati dari orang-orang Yahudi. Festus menjaga kepentingan politiknya sehingga lebih mengikuti kemauan orang Yahudi dari pada menyatakan kebenaran. Ia berusaha membujuk Paulus agar bersedia pergi ke Yerusalem untuk diadili di sana. Hal ini dilakukan oleh Festus untuk menyenangkan hati orang-orang Yahudi.

Paulus sebagai orang yang teguh berpegang pada kebenaran tidak menerima permintaan Festus. Di Kaisarea di mana Paulus dipenjarakan, di situ pula Paulus menyiapkan diri untuk diadili. Sebab di hadapan orang-orang Yahudi yang datang dari Yerusalem, Paulus akan mempertanggungjawabkan kebenaran yang ia yakini. Paulus menyatakan bahwa ia tidak berbuat salah terhadap orang Yahudi.

Kita sudah melihat ketidakbenaran yang dilakonkan oleh Festus dan keberanian Paulus menyatakan kebenaran menjadi suatu pelajaran yang baik bagi kita sebagai orang percaya. Apa yang dilakonkan Paulus mencontohkan suatu bentuk keberanian untuk melakukan kebenaran. Tentu apa yang dibuat Paulus tidaklah lepas dari kuasa Yesus Kristus dalam Roh Kudus yang memberikan kekuatan untuk melakukan kebenaran (Filipi 4:13). Oleh karena itu, sebagai keluarga Kristen kita terpanggil untuk meneladani Paulus yang berani mempertahankan kebenaran meskipun harus menghadapi resiko yang berat. Kita harus percaya bahwa setiap kebenaran yang diperjuangkan pasti akan disertai oleh Yesus Kristus. Amin.

Doa: Ya Yesus Kristus, Tuhan, kami serahkan hidup dan kemampuan kami untuk melakukan kebenaran. Kuatkanlah kami, ketika kami harus menanggung resiko apapun demi melakukan kebenaran. Amin. (rhkgmim)

Berita Terkait

Top