Hasil Debat Pilpres, Liando: Jika Salah Satu Terpilih Negara akan Makin Buruk


MANADO, CahayaManado.com–Hasil debat pemilihan presiden (pilpres) pertama tadi malam (12/12) melahirkan beragam tanggapan. Dosen Ilmu Politik FISIP Unsrat Ferry Daud Liando ketika dimintai tanggapan media ini, meragukan kualitas ketiga capres saat debat itu.

“Jika kualitas debat selanjutnya akan seperti tadi malam, maka siapapun yang akan terpilih dari ketiganya belum tentu Indonesia akan menjadi lebih baik, bahkan bisa jadi akan menjadi lebih buruk.
Perebatan semalam seperti seri sinetron yang mengandung sisi menarik karena saling menjatuhkan dan ada sedikit menampilkan lawakan bak artis-artis komedi,” katanya.

Janji-janji yang ditawarkan bukan sesuatu yang taktis dan inovatif. Gagasan yang dimunculkan hanya diadopsi dari isi konstitusi dan program jangka panjang yang sudah menjadi undang-undang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Negara atau RPJMN. Materi-materi dalam konstitusi maupun materi RPJMN merupakan kesepakatan politik dan wajib dieksekusi oleh siapapun presiden yang akan terpilih. Isu HAM, Hukum, Pelaynan Publik, Keadilan dan kesejahteraan merupakan given yaitu suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh siapapun yang akan menjadi presiden.

Hal diharapakan dalam debat pilpres bukan mencopy paste apa yang memang sudah diwajibkan, akan tetapi apa pilihan strategi, solusi dan apa yang paling diprioritaskan. Jika tiga aspek ini menjadi muatan debat maka bisa jadi akan ada perdebatan karena bisa beda strategi, bisa beda solusi dan bisa beda prioritas. Mana pilihan yang di-claim paling realistis dan paling dibutuhkan masyarakat maka memerlukan gagasan. Dari gagasan itulah yang akan mendapat penialaian publik apakah akan dipilih atau tidak dipilih.

Karena konsep debat hanya copy paste dari sesuatu yang given maka dalam beberapa bagian debat justru ada yang saling mendukung konsep satu sama lain. Padahal makna debat itu sesungguhnya adalah saling menyangga, dan berlomba-lomba meyakinkan publik tentang pilihan wacana kebijakan publik yang ditawarkan.
“Sifat saling menyerang dan saling menjatuhkan lawan debat tadi malam justru seperti mengubah aibnya sendiri ke publik,” tegasnya.

Serangan capres 1 ke capres 2 tentang buruknya kinerja pemerintahan saat ini sama halnya dengan membuka aibnya sendiri. Sebab presiden saat ini diusung oleh Nasdem dan PKB pada pilpres 2014 dan 2019. Kemudian di jajaran menteri terdapat kader-kader Nasdem dan PKB sebagian masuk penjara karena koruptor ketika berkuasa saat ini.
Serangan capres 2 terhadap buruknya kinerja capres 1 saat menjabat gubernur DKI Jakarta juga membuka aibnya sendiri sebab Guberbur Anies di usung Gerindra parpolnya Prabowo.
Serangan capres 3 ke capres 2 tentang kondisi pemerintahan yang buruk saat ini sama halnya menjatuhkan derajat parpol yang mengusung presiden pada pilpres 2019 yang kebetulan mengusung capres 3 saat ini. Serangan capres 3 tentang buruknya penegakan hukum dan HAM sama halnya dengan melemahkan pasangan cawapresnya yang saat ini mejabat Menkopolkumham.
Serangan capres 1 dan 3 tentang IKN sama dengan menyerang parpol-parpol yang mengusungnya. Sebab UU IKN diundangkan setelah persetujuan DPR RI yang beranggogakan semua parpol di DPR kecuali PKS.
“Hasil debat tadi malam melahirkan banyak keraguan. Jika salah satu terpilih maka Indonesia terancam menjadi lebih buruk. Semoga debat pilpres kedua dan ketiga akan menjadi beda seperti semalam,” pungkasnya.

Editor: Jeffry Pay

Berita Terkait

Top