Anda Boleh tak Suka Jokowi, Tapi Ingat Jangan Bakar Lumbung Padi Ini


Oleh Joppie Worek 

AKHIRNYA kita harus membuat simpul, Pemilu hanyalah salah satu syarat demokratis konstitusional menuju Indonesia Jaya. Pemilu bukan tujuan.

Paslon Amin, PraGib, GaMa bukanlah segalanya, mereka bukan dewa republik. Sesungguhnya mereka hanyalah simbolisasi Piramida Demokrasi anak-anak bangsa yang dipanggil dan diutus untuk dipilih menjadi pemimpin.

Kontestasi Pemilu tidak boleh jadi pemicu rusaknya amanah dan cita-cita luhur bangsa. Suka atau tidak suka jangan ada luapan amarah yang kemudian jadi liar. Jika itu terjadi, hanya dilakukan oleh penghianat cita-cita luhur.

Sungguh menyedihkan, jika jalan sejarah Repoblik tercinta ini terus menerus diganggu dengan nafsu dan silang kepentingan kekuasaan. Jika demikian terus menerus, loyalitas kita kepada Repoblik tidak semakin baik. Kita ada dalam satu rumah tetapi, berdiam di kamar-kamar kebencian.

Tentang Jokowi yang belakangan menjadi sasaran tembakan bertubi-tubi. Itu semua akhirnya tersimpulkan didorong nafsu kekuasaan yang terakumulasi menjadi kebencian. Kejahatan apa yang dilakukan Jokowi ? Bisa kalian buktikan?

Saya rakyat biasa mau memohon, berhentilah membenci. Berhentilah menghina dan mengejek. Barangkali Anda-Anda sebagai elite politik, cerdik pandai, cendekiawan ingin pemimpin yang lebih baik dari Jokowi. Itu baik, tetapi menjadi tidak baik ketika saat bersamaan kalian menghina dan mengejek Jokowi di penghujung 10 tahun kepemimpinannya. Terkait ini narasi etika akan diberlakukan juga untuk kalian.

Anda – Anda bisa tidak suka pada seorang Joko Widodo, tetapi Anda – Anda tidak boleh membakar lumbung padi. Anda – Anda boleh saja menjadi nahkoda, tetapi Anda – Anda tidak boleh merobohkan tiang layar kapal ini.

Indonesia kita harus makin kuat, yaa hanya dengan bersama bangsa ini menjadi lebih kuat. Partai sebagai dapur demokrasi maju, Kampus sebagai dapur peradaban maju hendaklah menjadi produsen pejuang Indonesia Jaya. Partai dan Kampus harus tetap menjadi mercu suar kedaulatan Repoblik Indonesia.

Kalian bisa saja melakukan kajian dan analisa komprehensif tentang kepemimpinan masa lalu, masa kini dan masa akan datang; tetapi lakukanlah semua itu dengan spirit cinta tanah air dan mempertahankan keberlanjutan hidup bangsa. Jika tidak, tak ubahnya kalian meninggalkan ranjau ranjau perpecahan.

Kembali ke Pemilu, amanat konstitusi ini bukan momentum berebut di tengah “bancaan” yang kemudian harus diwarnai dengan sikut-menyikut, injak-menginjak, yang dapat menyimpan amarah atau dendam kekuasaan yang berkelanjutan. Ini tentu saja tidak baik untuk bangsa ini.

Pemilu 2024 sepatutnya dijadikan momentum aktualisasi kebangsaan Indonesia yang makin kokoh berdaulat dan bermasa depan. Aktualisasi cita cita luhur Indonesia adil dan makmur.

Momentum Pemilu kali ini mengajarkan kita semua untuk makin menjadi anak bangsa yang bervisi, anak bangsa yang tak membenci. Pemilu juga mengajarkan kita untuk tidak saling curiga.

Pemilu justru mendorong kita untuk bercita-cita, bukan saling merusak citra. Pemilu mau mengingatkan kita tentang cinta tanah air.

Jikapun Pemilu kita kali ini ada kurangnya di sana sini, apakah kita harus membiarkan kapal ini tenggelam karena amarah. Tidak, kita harus tetap menjaga kapal ini berlayar ke pulau tujuan. Buang ke laut semua amarah dan benci. Jayalah Indonesia Kita (Joppie Worek, wartawan senior)

Berita Terkait

Top