Benarkah Dokter Lulusan Luar Negeri Kualitasnya Lebih Rendah Sehingga Perlu Beradaptasi?


Oleh dr Erik Tapan MHA

DALAM salah satu tayangan talkshow dengan Ketua PB IDI, terlihat sang host tidak bisa menahan ketawa saat menanyakan kenapa dokter-dokter luar negeri perlu melakukan program adaptasi sebelum berpraktek di Indonesia. Menurut pemikiran sang host tersebut, program adaptasi yang saat ini dilakukan oleh Komite Bersama Adaptasi yang terdiri dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Kemendikbud, Kemenkes, Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI), Kolegium dan PB IDI, seakan meng-underestimate dokter-dokter lulusan luar negeri bahwa kualitasnya di bawah dokter-dokter Indonesia.

Yuk kita bedah lebih lanjut
Aturan program adaptasi BUKAN aturan dari PB IDI. Kewajiban melakukan adaptasi tercantum dalam UU Praktek Kedokteran yang telah diperbarui dengan Omnibuslow Kesehatan. Program adaptasi ini BUKAN berarti Pemerintah Indonesia meng-underestimate dokter-dokter (khususnya WNI) lulusan luar negeri. Kita harus ingat bahwa kurikulum kedokteran di luar negeri itu sangat beraneka ragam. Ambil contoh ada dokter lulusan luar negeri mengaku belajar Penyakit Anak (Pediatri), setelah dianalisa ternyata kurikulum pendidikan dokter tersebut hanya mengenai bayi baru lahir (neonatologi) saja. Di Indonesia belum ada spesialis Bayi Baru Lahir. Dokter Indonesia harus belajar dulu Pediatri sebelum mengambil superspesialis/Konsultan Neonatal.

Apa yang dilakukan?
Menurut, Dr. Vonny Tubagus, Sp. Rad., Ketua Sub Komite Evaluasi Kompetensi Komite Bersama Adaptasi tersebut, Adaptan (istilah bagi dokter yang melakukan program adaptasi) sebelum melaksanakan / ditugaskan ke Fasyankes/RS selama 2 tahun dilakukan dulu verifikasi dokumen, dll., seperti Sertifikat Profesi / Ijazah oleh Kemendikbud kemudian dilakukan Evaluasi Kompetensi. Bila dinyatakan kompeten maka akan ditempatkan ke Fasyankes/RS yang direkomendasikan oleh Kemenkes.

Bila dalam hasil Evaluasi Kompetensi belum dinyatakan kompeten maka sang adaptan perlu melakukan penambahan kompetensi dahulu yang dilaksanakan di RS Pendidikan.

Ini semua agar masyarakat bisa terlindungi sehingga memperoleh layanan kesehatan yang diberikan oleh dokter di Indonesia minimal berstandard Indonesia. Jika pengetahuan / ilmu kedokteran sang adaptan lebih dari standard Indonesia, tentu lebih baik lagi. Tapi jangan sampai kurang kompetensinya. Kualitas pendidikan Kedokteran Luar Negeri kan bermacam-macam.

“Lagipula program adaptasi kan bukan hanya ilmu tapi ke adat budaya masyarakat dll. juga. Termasuk kemungkinan penyakit2 yang kurang di tempat pendidikan luar negeri.’ tutup Vonny yang lulusan FK UNSRAT tersebut.

Masih perlu diperbaiki
Tentu saat ini, Pemerintah perlu terus memperbaiki sistem ini sehingga semakin hari semakin baik penyelenggaraannya. Dokter mendengar bahwa ke depan Pemerintah / Kemendikbud akan membuat daftar Fakultas Kedokteran Luar Negeri yang berkualitas sehingga program adaptasi bagi lulusannya bisa lebih dipermudah. Daftar ini juga bisa menjadi acuan bagi calon-calon dokter yang ingin belajar di luar negeri. Semoga demikian.

Berikut video program adaptasi salah satu dokter lulusan LN di RS di Kabupaten Anambas, provinsi Kepulauan Riau.

Kab. Anambas terdiri dari berpuluh pulau-pulau kecil dan ada penduduknya. Dan untuk ke Kabupaten kadang harus tergantung cuaca karena alat transportasi hanya speedboad.

Berita Terkait

Top