In Memoriam: Orang-orang Tercinta telah Pergi, Kampungku Noongan Dilanda Duka Nestapa


Catatan Jeffry Pay 

BEBERAPA waktu terakhir ini di laman Facebook saya diwarnai berita-berita duka. Meskipun saya sudah jarang berada di kampung, dimana saya dibesarkan. Tapi saya selalu mengikuti perkembangan yang ada di kampung saya, Noongan.

Derai air mata tak berkesudahan di Sebuah Negeri yang dingin, yang ada di ujung Barat, Kota Langowan, Minahasa, mewarnai perginya orang-orang tercinta.

Sebelum ini setidaknya ada sejumlah kenalan, kawan, saudara, yang pergi mendahului kita, dan meninggalkan sejumlah kenangan. Mereka adalah orang-orang yang dicintai dan penuh kebaikan.

Saya tidak bisa menyebutkan dengan lengkap siapa saja mereka yang meninggal dunia. Tapi di sini saya hanya menyebut beberapa di antara mereka yang saya kenal dekat.
Mulai dari Pnt. Venny Lomboan, mantan Sekretaris Jemaat dan Wakil Ketua Jemaat di Gereja GMIM Sion Noongan. Cukup lama kami sama-sama melayani Jemaat sebagai Pelayan Khusus. Jauh sebelum itu, kami adalah bagian dari Persekutuan Pemuda Remaja Noongan (PPRN) di Manado. Kebetulan ketika saya menjadi Ketua PPRN, Venny cukup aktif, karena ia pernah bekerja di Manado. Saya ikut merasakan kesedihan istrinya Debby dan anak-anaknya Ino dan Yeski. Apalagi Venny sebetulnya sehat-sehat saja. Dan ia juga suka bergurau.

Kemudian Steven Kembuan, saudara sepupu saya. Ia banyak kali membantu saya kalau mobil kami mengalami kerusakan. Dalam tali persaudaraan, Steven adalah seorang yang ramah dan sederhana. Ia sebetulnya baru saja ditinggalkan istrinya Meytha Soriton, yang lebih dulu meninggal dunia. Tentu saja kepergian suami-istri ini menimbulkan duka yang dalam bagi Rachel dan Gilbert, keponakan kami. Setahu saya Steven sebelumnya memang sering sakit. Tapi ia selalu menunjukkan semangat hidup. Apalagi harus menopang studi kedua anaknya.

Selanjutnya Hanny Wungkar, seorang Pemuda. Anak sulung dari teman saya Audy Wungkar dan Susry Memah. Saya juga bisa merasakan kesedihan dari Audy dan Susry, serta adik Nara. Hanny adalah seorang pemuda yang pendiam dan ramah. Dalam postingannya di media sosial, ia adalah seorang pecinta alam. Dan dia adalah seorang perawat. Memang sempat timbul pertanyaan dalam benak saya, sebagai seorang perawat, apakah dia tidak terlalu pusing dengan kesehatannya sendiri. Tapi itulah kelemahan manusia. Seorang perawat mungkin sangat paham merawat orang sakit, tapi ia gagal merawat dirinya sendiri. Ketika Hanny dirawat di rumah sakit, kami  sudah bersiap untuk pergi melawat. Tapi apa daya mobil kami mogok di tengah jalan. Dan selama beberapa hari tidak bisa kemana-mana.

Berita yang membawa suasana duka juga saat meninggalnya ibu gembala  Melva Kumambouw, istri dari Pdt. Michael Wahido. Ibu Melva adalah pribadi yang baik, selalu ramah kepada semua orang. Ia juga giat melayani sebagai ibu Gembala jemaat GPdI Noongan. Meskipun di akhir hidupnya ia banyak kali mengalami sakit, namun ia tetap bersemangat. Suaminya Michael Wahido dan anak-anaknya, Livael dan Blessy sangat mengasihi dia dan masih tetap berharap ia bisa hidup lebih lama lagi. Tapi Tuhan punya kuasa dan otoritas.

Dan terakhir ini berita duka meninggalnya Om Leo Wantania. Senyumnya dan keramahannya akan selalu saya kenang. Tiap kali ketemu, entah di jalan,  entah di pasar, ia pasti menegur atau paling tidak melambaikan tangannya. Om Leo juga sangat aktif bergereja. Saya tidak akan melupakan ketika kami sama-sama disibukkan membangun gereja baru, pemekaran dari Gereja Sion Noongan. Yaitu gereja GMIM Zaitun Noongan saat ini. Pada waktu itu Tante Elsje Malonda, istrinya adalah Bendahara Panitia Pembangunan Gereja Baru, saya sebagai Sekretaris Panitia, dan almarhum Jorry Tambuwun sebagai Ketua Panitia. Om Leo sangat aktif membantu mencari dana dan juga membuat laporan keuangan. Kami selalu pergi bersama kemana-mana untuk mencari dana pembangunan gereja.
Tapi kini Om Leo telah meninggalkan kita semua. Tuhan telah memanggil orang-orang tercinta di Noongan ini. Dan kita hanya mampu berdoa kiranya keluarga yang berduka cita mendapat penghiburan yang sejati dari Sang Pencipta. Kita hanya bisa berkata, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan. AMIN. (**)

Berita Terkait

Top