SMAN 2 Bitung Berstatus Sekolah Siaga Kependudukan


Kepsek SMAN 2 Bitung Maxy Awodatu saat menerima SK dari Plt Ass I Robby Kawengian disaksikan Ketua TP PKK Ny Ritta Mantiri Tangkudung

Bitung, CahayaManado.com – SMA Negeri 2 Bitung lagi-lagi ‘diganjar’ penghargaan dari pemerintah. Kali ini berbentuk kepercayaan yang diberikan Pemerintah Kota Bitung yakni menambah status SMAN 2 Bitung menjadi Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). SSK adalah sekolah yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan dan keluarga berencana ke dalam beberapa mata pelajaran sebagai pengayaan materi pembelajaran, di mana di dalamnya terdapat pojok kependudukan sebagai salah satu sumber belajar peserta didik sebagai upaya pembentukan generasi.
“Rujukan SSK ini yakni UU no 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga. Kemudian Peraturan Pemerintah atau PP nomor 87 tahun 2014 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga,” papar Plt Asisten I Kota Bitung, Frets Robby Kawengian STh, Sp.d, MAP, mewakili Wali Kota Bitung Ir Maurits Mantiri MM saat menyerahkan SK SSK kepada Kepsek SMAN 2 Bitung Maxy Awondatu SPd MPd, disaksikan langsung Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bitung Ny Rita Mantiri Tangkudung, S.T di sela-sela kegiatan Pengukuhan Bunda Pendamping Keluarga se Kecamatan Kota Bitung bertempat di Lantai IV Kantor Wali Kota Bitung Rabu 5 Desember 2023.
Dipaparkan Kawengian, Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) adalah sekolah yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan dan keluarga berencana ke dalam beberapa mata pelajaran sebagai pengayaan materi pembelajaran, di mana di dalamnya terdapat pojok kependudukan sebagai salah satu sumber belajar peserta didik sebagai upaya pembentukan generasi berencana, agar guru dan peserta didik dapat memahami isu kependudukan dan guru mampu mengintegrasikan isu kependudukan ke dalam pembelajaran sesuai dengan Kurikulum 2013.
“SSK didefinisikan sebagai implementasi operasional pengendalian kependudukan dan keluarga berencana dengan program-program pendidikan, terintegrasi dikelola dari, oleh penyelenggara pendidikan melalui pemberdayaan sekolah serta memberikan kemudahan atau akses terhadap anak didik untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan khusus bidang kependudukan dan keluarga berencana, pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi kreatif serta program sektor lainya,” tambah Kawengian.
Disisi lain, Kepsek Maxy Awondatu ikut menimpali. Kata dia, latar belakang pembentukan SSK ini tidak lepas dari upaya pemerintah dalam mensikapi akan datangnya era Bonus Demografi di Indonesia pada tahun 2020 hingga 2035 mendatang. Pada era itu, jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) proporsinya lebih dari 50 persen dibandingkan dengan kelompok usia non produktif (0-14 tahun dan > 65 tahun). Pada era ini harus disiapkan generasi yang berkualitas, agar tenaga kerja yang melimpah pada saat ini mampu membawa berkah bukan malah menjadi bencana. Apalagi realitanya saat ini masih banyak persoalan kependudukan yang dihadapi Indonesia.
“Bukan hanya terkait dengan rendahnya tingkat pendidikan sebagian besar penduduk dan tingginya laju pertumbuhan penduduk yang memicu pengangguran, tetapi juga kualitas kesehatannya yang masih rendah yang ditandai dengan tingginya angka kematian ibu dan bayi, serta banyaknya persoalan yang dihadapi remaja terkait dengan pergaulan bebas, pernikahan dini, penyalahgunaan napza dan sebagainya. Disinilah perlunya upaya menghadapi datangnya era bonus demografi secara bijak dengan pendidikan kependudukan pada generasi mudanya, utamanya siswa di sekolah, agar mereka menyadari persoalan yang akan dihadapi di era mendatang terkait melimpahnya tenaga kerja. Juga mendorong mereka untuk tumbuh dan berkembang menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas yang memiliki pengetahuan, pemahaman dan kesadaran serta sikap dan perilaku berwawasan kependudukan,” urai Awondatu.

Dengan demikian, lanjut Kepsek dengan segudang prestasi ini, tujuan yang diharapkan dengan adanya program SSK ini tentu saja selain memupuk kesadaran akan kondisi kependudukan di wilayah tempat tinggal masing-masing siswa, juga menumbuhkan sikap bertanggung jawab dan perilaku adaptif berkaitan dengan dinamika kependudukan. Lebih dari itu mengembangkan sikap yang tepat dalam mengambil keputusan untuk mengatasi masalah-masalah kependudukan kelak ketika mereka menjadi dewasa. Dalam konteks ini, siswa perlu diajak untuk bersikap: (1) Saya Sadar (I aware) mengenai perkembangan jumlah penduduk dunia, kebutuhan dan ketersediaan air, pangan dan energi, (2) Saya Peduli (I care) mengenai isu-isu kependudukan, serta (3) Saya Melakukan (I do) mulai melakukan langkah-langkah aksi nyata melalui perilaku hidup berwawasan kependudukan. “Untuk itu, kami ucapkan terimakasih atas kepercayaan Pemerintah Kota Bitung SMA Negeri 2 Bitung Sekolah Siaga Kependudukan,” pungkasnya. (ric)

Berita Terkait

Top