15.9 C
London
Selasa, Oktober 19, 2021

“Stel Preman”, Dirut PDAM Minsel Ancam Oknum Wartawan

- Advertisement -
- Advertisement -

MINSEL, CAHAYAMANADO – Tindakan tak terpuji ditunjukkan oleh Direktur Utama (Dirut) PDAM Minsel FM alias Frangky. Yang bersangkutan diduga melakukan pengancaman kepada oknum wartawan Minsel. 

Hal itu terjadi pada saat sejumlah wartawan sedang mewawancarai Pjs Bupati Minsel Meki Onibala usai meresmikan gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) di Pondang, Amurang.

Aksi menghalangi wartawan dan ujaran ancaman dilakukan Dirut PDAM yang mungkin merasa gerah dengan oknum wartawan yang mewawancarai Pjs Bupati.

“Saya dan beberapa teman sedang melakukan konfirmasi terkait informasi-informasi simpan siur kepada Pjs Bupati.  Tiba-tiba FM mendekati saya dan mulai mengeluarkan kata-kata yang bernada kurang bagus.  Apalagi kapasitanya sebagai seorang pejabat publik, ” ungkap wartawan yang mengaku diancam FM menceritakan awal kronologis kejadian.

“FM lalu mengancam saya.  ‘Ngana jangan macam-macam. Jang ta skop pa ngana.’  Ancaman itu disaksikan juga oleh teman-teman media.  Ada kok rekamannya baik audio maupun visual, ” terangnya.  

Korban yang sudah sekitar 4 tahun menjadi pewarta di Minsel menyayangkan tindakan bergaya preman oleh Dirut PDAM tersebut.

“Padahal kebebasan pers itu dijamin oleh Undang-Undang nomor 40 tahun 1999. Tapi, mungkin sepertinya hanya sebagai pantulan kaca nako yang berklise dikalangan pejabat tertentu, ” sesalnya. 

Rupanya aksi menghalang-halangi tugas pers tak hanya dilakukan oleh FM, tapi juga diduga dilakukan oknum yang mengaku orangnya Pjs Bupati.  

“Selain FM ada juga seseorang yang mengaku orangnya Pjs Bupati.  Tapi,  kurang begitu tahu namanya siapa.  Dia berbadan besar.  Kalau tidak salah namanya Steven.  Dia justru mengeluarkan pernyataan dengan nada rasis. ‘Ngana  jang ngana pe ambon jangan ngana….,” tambahnya korban meniru pernyataan Steven.  

Merasa tidak terima dengan tindakan ini oknum wartawan tersebut didampingi sejumlah rekan-rekan wartawan langsung melaporkan ke Polres Minsel. 

“Saya sudah bawa aduan resminya. Dan diterima langsung pak Kapolres. Dalam kesempatan itu Pak Kapolres berjanji menjadi perhatian dan segera memproses. Ya prinsipnya kami berharap ini secepatnya mendapat penanganan. Karena tidak boleh lagi ada intimidasi, ancaman dan rasisme terhadap pekerja pers,” harapnya.

Diketahui berdasarkan UU Pers nomor 40 tahun 1999 Pasal 18 (1) Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).

 

(DArK)

- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here