Beranda SULUT Purna Praja Berduka, Mayoret Angkatan XVII Itu Sudah Mendahului

Purna Praja Berduka, Mayoret Angkatan XVII Itu Sudah Mendahului

0
Purna Praja Berduka, Mayoret Angkatan XVII Itu Sudah Mendahului

Selamat Jalan Orang Baik Gledyes Tadete, SSTP…. 

 

Oleh : Altin Sualang, SSTP, MPA.

 

 

Dewasa, tangguh dan keibuan. Itu kesan pertama saya kepada Edys, begitu dia biasa disapa.

 

Saya mulai kenal tahun 2005, saat kami Calon Praja STPDN dikumpulkan di lapangan Koni Manado, Gledyes Tadete ditunjuk sebagai Koordinator Putri Kontingen Sulawesi Utara bersama Cliff Muntu sebagai ketua kontingen.

 

Kurang lebih 4 tahun kami menjalani pendidikan di Lembah Menglayang, Jatinangor. Kami pernah tertawa bersama bahkan menangis bersama. Suka dan duka kita lalui bersama. Sebagai anak perantau yang sedang menimba ilmu di negeri orang, wajarlah jika kebersamaan kami terasa sangat kental. Bukan sedarah tapi kami lebih dari saudara, begitu kuatnya ikatan diantara kami sesama orang kawanua yang berjuang mendapatkan gelar Sarjana Sains Terapan Pemerintahan (SSTP).

 

 

Orang-orang melihat Edys sebagai orang yang periang, murah senyum, manja tapi tangguh dan kuat. Dirinya terpilih sebagai mayoret ketika itu. Tidak gampang menjadi seorang mayoret yang harus mampu membagi waktu latihan dengan jam kuliah, belum lagi fisik harus super sehat, namun ternyata Edys mampu, tetap tampil ceria, kuat, perhatian walau didesak dengan tekanan latihan, tanggung jawab kontingen bahkan koreksi. Edis menjadi kebangaan angkatan 17 terlebih kebanggan kontingen Sulawesi Utara.

 

Edys oh Edys…

Tidak ada yang pernah menyangka, sosok manis berlesung pipit ini begitu cepat meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

 

Malam itu bagai disambar petir, saya mendapat informasi dari grup WA STPDN 17 SULUT tentang kabar pohon tumbang yang jatuh tepat di atas mobil Gledyes dan Ilfrits (suaminya).

“Bantu doa for Edys, semoga ndak apa-apa (semoga tidak apa-apa),” tulisan Rivo di grup tersebut.

 

Saya yang pada waktu itu sedang menyeruput kopi bersama teman-teman di salah satu cafe di Megamas langsung terdiam tanpa kata-kata karena gambar yang dikirim di grup itu terlihat sangat parah. Pohon yang tumbang itu sangat besar menyebabkan mobil yang dikendarai edis dan suaminya menjadi penyok tidak ada bentuk. Bagai kerupuk yang ditindih barbel belasan kilogram.

 

Komunikasi Whatsapp satu-satunya harapan saya untuk memastikan apa yang terjadi. Masih terlintas dibenak ini supaya kabar yang beredar hanyalah kabar angin. Saya dan teman-teman berharap Edys dan suaminya mendapat mukjizat dari Tuhan. Bahkan, lebih dari itu kami berharap berita itu tidak pernah terjadi.

 

Tapi kabar yang tidak ingin kami dengarkan itu akhirnya datang, proses evakuasi selesai dan dari berita yang sama sekali tidak diharapkan itu datang.

‘Edys so ndak ada (Edys sudah tidak ada)’.

Sepenggal kata yang keluar, “Oh Tuhan”, sambil berusaha tegar menahan sedih.

 

Grup Whatsapp mendadak ramai, postingan di linimasa dan story penuh dgn foto-foto Edys dan suaminya.

Purna Praja angkatan 17 seluruh Indonesia pasti kenal siapa Edys. Dari 1.000 orang Praja, Edys merupakan satu dari dua Mayoret Grum Band Gita Abdi Praja IPDN.

 

Bukan hanya angkatan XVII, kakak-kakak dan adik-adik dari kontingen Sulut pun bergantian menyampaikan ucapan berduka. Hampir semuanya tidak percaya atas musibah yang dialami Edys dan suaminya.

 

Minggu, 04 Oktober kami tiba di Siau, saya (Altin Sualang), Juandly Muaja, Jilly Paomey, dan Rivo Lombantoruan. Dijemput oleh adik-adik tingkat di Pelabuhan Siau dan langsung menuju ke rumah duka, sambil melewati TKP dimana Edys dan Kiki tertimpa pohon. Banyak cerita dari warga dan keluarga yang membuat kami makin kagum dengan sosok Edys dan Kiki.

 

Pada hari Jumat, 02 Oktober 2020 pukul 18.20 Edys dan Kiki mengendarai mobil mereka keluar dari rumah untuk membeli obat untuk ayahanda Edys yang sedang sakit. Saat pulang kira-kira jarak 1 km dari rumah, tiba-tiba kejadian naas itu terjadi.

Pohon tumbang itu terjadi sekitar pukul 19.30 dan proses evakuasi selesai pada pukul 22.40. Tubuh Edys dan Kiki terbujur kaku dengan posisi mereka berdua saling berpegang tangan. Cinta mereka abadi dalam keabadian sehidup semati.

 

Gledyes Tadete yang saat ini menjabat sebagai Sekcam Siau Timur meninggalkan kita semua.

 

“Edys so baku dapa dengan kakon Cliff Muntu (Kakon adalah singkatan dari Ketua Kontingen),” tulis Julia Sanger.

Sebagai informasi, Edys merupakan Purna Praja angkatan 17 dimana angkatan ini terkenal sebagai angkatan reformasi karena salah satu anggotanya adalah Alm Cliff Muntu. Cliff Muntu meninggal sebagai ketua kontingen Sulut saat masih Madya Praja (Praja tingkat 2) dan Edys sebagai koordinator putri kontingen Sulut.

 

Angkatan 17 khususnya Sulut, berjumlah 22 orang saat masuk di tingkat pertama, namun lulus pada tahun 2009 berjumlah 20 orang. 2 orang tidak menyelesaikan pendidikannya. Yang pertama Cliff Muntu (as we know) yang kedua Gusti Satria memilih melanjutkan pendidikan sebagai lawyer. Dan akhirnya angkatan ini tersisa 19 orang.

 

Kepergian Gledyes Tadete menceritakan duka yang mendalam. Edys merupakan anak tunggal dari Keluarga Tadete-Takaliuang. Ayahanda Gledyes merupakan mantan Camat yang baru saja pensiun pada tanggal 01 Oktober 2020.

 

Kami mengingat Edys sangat dekat dengan orang tuanya. Bahkan jika menelepon bisa berjam-jam.

“Pokoknya kalo so ja bicara asok-asok, Edis so semantara ba telepon itu deng depe papa,” ungkap Jily Paomey dengan logat khas Manado yang kental.

 

Edys lahir pada tanggal 08 Mei 1986 di Dame, Siau.  Lulus tahun 2009 di IPDN dan mengawali karir di Kabupaten Sangihe dan melanjutkan karir di Kabupaten Sitaro sampai dengan akhir hayat sebagai Sekretaris Kecamatan Siau Timur.

 

Edys, banyak saudaramu dari seluruh nusantara menitipkan salam untukmu. Banyak yang sayang dan rindu dengan sosokmu yang sangat baik itu. Orang-orang itu ingin ada disini untuk memberikan penghormatan terakhir padamu, namun situasi ini sangat tidak memungkinkan. Tapi percayalah, keramahan dan kebaikan hatimu menjadi kenangan indah, yang akan selalu mewarnai cerita panjang perjalanan sejarah IPDN angkatan XVII.

 

Bineka Nara Eka Bhakti

 

(**)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here