17.2 C
London
Kamis, Juli 29, 2021

Antisipasi Bahaya Bencana Alam, Karang Taruna dan BPBD Tomohon Berkolaborasi Gelar Pembekalan

- Advertisement -
- Advertisement -

Tomohon,CM- Kota Tomohon yang diapit diantara dua gunung api aktif, yakni Gunung Lokon dan Mahawu. Gunung Lokon memiliki ketinggian 1.580 meter, saat ini berstatus siaga.

Status siaga pun, membuat masyarakat Kota Tomohon terus waspada akan bahaya bencana, yang tak bisa diprediksi serta datang sewaktu-waktu.

Karang Taruna Kota Tomohon yang dikomandoi oleh Beldie Tombeg, ST, M. Ars, berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), mengadakan Pembekalan Antisipasi Bahaya Bencana Gunung Api Lokon, dengan Tema “Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Antisipasi dan Menghadapi Bencana Alam” yang dilaksanakan di Hotel Wise, Kelurahan Kamasi kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon. Jumat (24/5/2019).

Pada kesempatan itu, Materi pembekalan dipaparkan oleh Kaban BPBD Drs J R Kalangi SH MM, terkait bagaimana langkah-langkah dan bagaimana yang harus dilakukan dalam penanggulangan jika terjadi bencana sewaktu-waktu.

Langkah pertama dalam upaya penanggulangan bencana adalah Membuat sistem peringatan dini. Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) atau serangkaian sistem yang berfungsi untuk memberitahukan akan terjadinya kejadian alam, Sistem peringatan dini ini akan memberitahukan terkait bencana yang akan terjadi atau kejadian alam lainnya.

Lanjutnya, langkah kedua yang harus dilakukan adalah, Membuat peta ancaman, tujuan pemetaan dikatakan kalangi adalah, bisa mengetahui luas dari bencana yang ditimbulkan, sehingga proses dan dampak bisa diminimalisir.

Kemudian Membuat rencana siaga atau cadangan, yaitu mengurangi resiko Bencana melalui sebuah pendekatan sistematis yaitu mengidentifikasi, mengkaji dan mengurangi risiko-risiko bencana.

Membuat rencana pengungsian atau evakuasi, jadi, sebelum terjadinya bencana. Seumpama bencana gunung berapi, seperti pada poin kedua yaitu peta ancaman, setelah kita ketahui lokasi dan jarak dari dampak bencana, kita bisa menentukan lokasi yang cocok untuk pengunsian.

Simulasi, latihan lapangan atau latihan, seperti maknanya yaitu,  metode pelatihan yang meragakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan yang sesungguhnya. Jadi fungsinya dari pelaksanaan simulasi adalah bagaimana kita akan menghadapi jika terjadinya bencana, dan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan agar bisa meminimalisir kerusakan dan jatuh korban jiwa.

Selain Kalangi, Narasumber lainnya dalam kegiatan ini adalah, Dr Vera D. Tombokan, M, Kes, Selaku dosen Prodi kesehatan masyarakat di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Manado (Unima). Serta diikuti 50  peserta.

(micky)

- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here